Burung Pleci

Burung pleci atau yang juga dikenal dengan nama burung beling mata atau mata putih ini ialah burung yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita.Berwarna mayoritas kuning kehijauan dan berukuran kecil.Biasanya terlihat bergerombol dalam mencari makanan,baik diwaktu pagi maupun sore hari.Jika disiang hari umum ditemukan berkelompok dalam jumlah yang lebih sedikit.

Banyak orang menyebutnya dengan nama pleci alasannya ialah bunyi burung mungil ini identik dengan bunyi yang terdengar menyerupai kata 'pleci pleci' yang dibarengi dengan bunyi cuitan yang meninggi.Selain bunyi orisinil yang cukup keras tersebut,burung jenis pleci ini juga bisa berkicau dengan bunyi yang cukup baik,jadi tidak heran jikalau burung ini juga ada kelas lombanya.

Burung pleci atau yang juga dikenal dengan nama burung beling mata atau mata putih ini adala Burung Pleci
birdlifepn

Dalam bahasa Inggrisnya,burung pleci dikenal dengan nama Zosterops.Terdapat banyak sekali jenis burung pleci yang tersebar di aneka macam negara,banyak dijumpai di Asia,Afrika maupun Australia.Di Indonesia sendiri,spesies burung pleci ini juga cukup banyak,lebih dari 15 jenis burung pleci yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia.

Secara keseluruhan,berikut ini daftar nama burung pleci menurut situs wikipedia tahun 2015.
  1. Fernando Po speirops (Zosterops brunneus)
  2. Príncipe speirops (Zosterops leucophoeus)
  3. Black-capped speirops (Zosterops lugubris)
  4. Mount Cameroon speirops (Zosterops melanocephalus)
  5. African yellow white-eye, Zosterops senegalensis
  6. Cameroon green white-eye, Zosterops (senegalensis) stenocricotus
  7. Kirk's white-eye, Zosterops kirki
  8. Pemba white-eye, Zosterops vaughani
  9. Mayotte white-eye, Zosterops mayottensis
  10. Montane white-eye, Zosterops poliogastrus (formerly poliogaster)
  11. Kulal white-eye, Zosterops (poliogastrus) kulalensis
  12. Taita white-eye, Zosterops (poliogastrus) silvanus
  13. South Pare white-eye, Zosterops (poliogastrus) winifredae
  14. Kikuyu white-eye, Zosterops (poliogastrus) kikuyuensis
  15. Mbulu white-eye, Zosterops (poliogastrus) mbuluensis 
  16. Abyssinian white-eye, Zosterops abyssinicus 
  17. Cape white-eye, Zosterops virens 
  18. Orange River white-eye, Zosterops pallidus 
  19. Malagasy white-eye, Zosterops maderaspatanus 
  20. Karthala white-eye, Zosterops mouroniensis 
  21. Marianne white-eye, Zosterops semiflavus (extinct: late 19th century) 
  22. São Tomé white-eye, Zosterops feae 
  23. Príncipe white-eye, Zosterops ficedulinus 
  24. Annobón white-eye, Zosterops griseovirescens 
  25. Réunion grey white-eye, Zosterops borbonicus 
  26. Mauritius grey white-eye, Zosterops mauritianus 
  27. Réunion olive white-eye, Zosterops olivaceus 
  28. Mauritius olive white-eye, Zosterops chloronothos 
  29. Seychelles white-eye, Zosterops modestus 
  30. Sri Lanka white-eye, Zosterops ceylonensis 
  31. Chestnut-flanked white-eye, Zosterops erythropleurus 
  32. Oriental white-eye, Zosterops palpebrosus 
  33. Japanese white-eye, Zosterops japonicus 
  34. Borodino Islands white-eye, Zosterops japonicus daitoensis 
  35. Lowland white-eye, Zosterops meyeni 
  36. Enggano white-eye,Zosterops salvadorii 
  37. Bridled white-eye, Zosterops conspicillatus (possibly poly- or paraphyletic) 
  38. Guam bridled white-eye, Zosterops (conspicillatus) conspicillatus (extinct: 1983) 
  39. Rota white-eye, Zosterops rotensis (formerly in conspicillatus) 
  40. Plain white-eye, Zosterops hypolais 
  41. Citrine white-eye, Zosterops semperi 
  42. Black-capped white-eye, Zosterops atricapilla (formerly atricapillus) 
  43. Everett's white-eye, Zosterops everetti 
  44. Yellowish white-eye, Zosterops nigrorum 
  45. Mountain white-eye, Zosterops montanus 
  46. Christmas white-eye, Zosterops natalis 
  47. Javan white-eye, Zosterops flavus 
  48. Lemon-bellied white-eye, Zosterops chloris 
  49. Ashy-bellied white-eye, Zosterops citrinella (formerly citrinellus) 
  50. Pearl-bellied white-eye, Zosterops grayi 
  51. Golden-bellied white-eye, Zosterops uropygialis 
  52. Pale-bellied white-eye, Zosterops consobrinorum 
  53. Black-ringed white-eye, Zosterops anomalus 
  54. Yellow-ringed white-eye, Zosterops wallacei 
  55. Black-crowned white-eye, Zosterops atrifrons 
  56. Sulawesi black-crowned white-eye, Zosterops (atrifrons) subatrifrons 
  57. Sangihe white-eye, Zosterops nehrkorni (formerly in atrifrons) 
  58. Seram white-eye, Zosterops stalkeri (formerly in atrifrons) 
  59. Cream-throated white-eye, Zosterops atriceps 
  60. Black-fronted white-eye, Zosterops minor (sometimes included in atrifrons) 
  61. Tagula white-eye, Zosterops meeki 
  62. Bismarck white-eye, Zosterops hypoxanthus 
  63. Biak white-eye, Zosterops mysorensis 
  64. Capped white-eye, Zosterops fuscicapilla (formerly fuscicapillus) 
  65. Buru white-eye, Zosterops buruensis 
  66. Ambon white-eye, Zosterops kuehni 
  67. Papuan white-eye, Zosterops novaeguineae 
  68. Canary white-eye, Zosterops luteus 
  69. Louisiade white-eye, Zosterops griseotinctus 
  70. Rennell white-eye, Zosterops rennellianus 
  71. Vella Lavella white-eye, Zosterops vellalavella 
  72. Ranongga white-eye, Zosterops splendidus 
  73. Gizo white-eye, Zosterops luteirostris 
  74. Solomons white-eye, Zosterops kulambangrae 
  75. Kolombangara white-eye, Zosterops murphyi 
  76. Yellow-throated white-eye, Zosterops metcalfii 
  77. Grey-throated white-eye, Zosterops rendovae 
  78. Malaita white-eye, Zosterops stresemanni 
  79. Santa Cruz white-eye, Zosterops santaecrucis 
  80. Silvereye, Zosterops lateralis 
  81. Robust white-eye, Zosterops strenuus (formerly strenua; extinct: c.1918) 
  82. Slender-billed white-eye, Zosterops tenuirostris 
  83. White-chested white-eye, Zosterops albogularis 
  84. Large Lifou white-eye, Zosterops inornatus 
  85. Fiji white-eye, Zosterops explorator 
  86. Vanuatu white-eye, Zosterops flavifrons 
  87. Green-backed white-eye, Zosterops xanthochroa (formerly xanthochrous) 
  88. Small Lifou white-eye, Zosterops minutus 
  89. Samoan white-eye, Zosterops samoensis 
  90. Dusky white-eye, Zosterops finschii 
  91. Grey-brown white-eye, Zosterops cinereus 
  92. Olive-colored white-eye, Zosterops oleagineus (sometimes placed in Rukia, as R. oleaginea) 
  93. Togian white-eye, Zosterops somadikartai (described in 2008) 
  94. Wangi Wangi white-eye Zosterops sp. (discovered in 2003) 
  95. Vanikoro white-eye Zosterops gibbsi (described in 2008)
Ada hampir 100 spesies burung pleci yang tersebar di aneka macam negara menurut data yang ada di wikipedia.Kemungkinan masih akan terus bertambah alasannya ialah penelitian yang terus berjalan tiap tahunnya.Untuk bunyi burung pleci-nya akan kami upload di lalu hari,silahkan simpan URL blog ini biar kalian bisa melihat update terbaru setiap harinya.

Burung Cucak Ijo Atau Cucak Hijau

Burung cucak ijo (jawa) atau cucak hijau ialah jenis burung pengicau yang mempunyai warna bulu secara umum dikuasai hijau.Dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan leafbird atau burung daun.Secara klasifikasinya,burung ini termasuk dalam keluarga Chloropsis bukan cucak cucakan atau Pycnonotidae.Namun penyebutan dalam bahasa lokal sudah terbiasa dengan Cucak alasannya makanan burung ini juga sama menyerupai jenis cucak-cucakan yaitu serangga dan buah-buahan.

 atau cucak hijau ialah jenis burung pengicau yang mempunyai warna bulu secara umum dikuasai hijau Burung cucak ijo atau cucak hijau
flickr.com

Burung cucak hijau ini terdiri dari 11 spesies yang tersebar di Asia tenggara,diantaranya ialah sebagai berikut:
  1. Philippine leafbird, Chloropsis flavipennis
  2. Yellow-throated leafbird, Chloropsis palawanensis
  3. Greater green leafbird, Chloropsis sonnerati
  4. Lesser green leafbird, Chloropsis cyanopogon
  5. Blue-winged leafbird, Chloropsis cochinchinensis
  6. Jerdon's leafbird, Chloropsis jerdoni
  7. Bornean leafbird, Chloropsis kinabaluensis
  8. Golden-fronted leafbird, Chloropsis aurifrons
  9. Sumatran leafbird, Chloropsis media
  10. Orange-bellied leafbird, Chloropsis hardwickii
  11. Blue-masked leafbird, Chloropsis venusta
Sedangkan dalam bahasa lokal,jenis-jenis cucak hijau yang banyak beredar di pasaran burung di Indonesia ialah sebagai berikut:
  1. Cucak ijo banyuwangi
  2. Cucak ijo sumatera
  3. Cucak ijo mini
  4. Cucak ijo kalimantan
  5. Cucak ranti/cucak ranting
  6. Cucak ranti mas
  7. Cucak cungkok
  8. Cucak ijo medan (kepala kuning)
Sementara jenis cucak ijo yang lain-nya tidak terdapat di Indonesia,seperti Cucak ijo kepala emas (golden fronted leafbird), Cucak ijo filipina (Philippine leafbird) dan Cucak ijo palawan (Yellow throated leafbird).Cucak cungkok atau Orange-bellied leafbird itu bergotong-royong juga bukan spesies cucak ijo yang terdapat di Indonesia,tapi pada kenyataannya di Indonesia juga sudah ada yang memeliharanya.

Suara burung jenis cucak hijau ini memang dikenal dengan cukup baik,keras dan berakal menirukan bunyi burung lain.Gaya berkicaunya juga cukup menarik dengan gaya khas menjambulkan bulu bab atas kepalanya (tidak semua spesies) sehingga menciptakan banyak orang yang minat memelihara burung ini.

Untuk bunyi kicauan burung cucak ijonya akan kami postingkan dikemudian hari.Semoga bermanfaat.

Burung Cucak

Burung cucak-cucakan atau bulbul nama dalam bahasa Inggrisnya,ini merupakan jenis burung pengicau berukuran sedang.Berparuh sedang dan pemakan serangga dan juga buah-buahan.Burung jenis cucak-cucakan ini jumlahnya sangat banyak sekali,sekitar 130 spesies dan terbagi dalam 24 genus,tersebar di banyak sekali negara di benua Asia dan Afrika untuk spesies terbesarnya.

Beberapa spesies burung cucak-cucakan dalam keluarga Pycnonotidae yang terdapat di Indonesia misalnya yang sudah sangat familiar yaitu cucak rawa,kutilang, cucak jenggot,kapas tembak, kutilang, trucukan, kutilang mas dan juga cucak kurincang.Masih ada beberapa jenis cucak-cucakan yang terdapat di Indonesia,sementara yang sering disebut Cucak ijo atau Cucak Ijo itu bukan termasuk ke dalam keluarga Pycnonotidae,melainkan dari keluarga leafbird atau Chloropsis.

cucakan atau bulbul nama dalam bahasa Inggrisnya Burung cucak
Merbah/kutilang jambul img by http://ibc.lynxeds.com/

Ciri-ciri burung jenis cucak-cucakan yaitu berekor sedang,paruh sedang agak lancip,dan tubuhnya terlihat seimbang antara kepala,leher,sayap, badan dan juga ekornya.Banyak diantaranya menghuni daerah terbuka,tapi juga ada beberapa jenis burung cucak-cucakan yang hanya sanggup dijumpai di daerah yang rimbun,seperti rawa-rawa,hutan dan pegunungan.

Burung jenis ini kadang terlihat secara berkelompok dalam jumlah yang kecil,terkadang hanya bersendirian maupun berpasangan.Mencari makan di pepohonan bergabung dengan kawanan burung lain yang bukan sejenisnya.Ada burung cucak yang mempunyai jambul,ada juga yang tidak,ada yang suaranya merdu bervareasi,ada juga yang hanya bersuara monoton keras.

Burung cucak-cucakan termasuk jenis burung yang gampang dipelihara asalkan kebutuhan pakannya tercukupi,seperti kebutuhan makanan aslinya dialam ibarat serangga dan buah-buahan.Burung jenis ini juga termasuk jenis burung yang sanggup jinak kalau dipelihara dari kecil.

Burung Cenderawasih

Burung Cenderawasih merupakan anggota keluarga Paradisaeidae dari ordo burung pengicau atau Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia belahan timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung dari anggota keluarga ini dikenal alasannya ialah bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung Cenderawasih mulai dari Cenderawasih raja pada 50 gram dan 15 cm sampai Cenderawasih paruh-sabit Hitam yang emiliki ukuran panjang 110 cm.

Burung Cenderawasih yang paling populer ialah anggota genus Paradisaea, termasuk spesies tipenya, Cenderawasih kuning-besar (Paradisaea apoda). Jenis ini dideskripsikan dari spesimen yang dibawa ke Eropa dari ekpedisi perdagangan. Spesimen ini disiapkan oleh pedagang pribumi dengan membuang sayap dan kakinya biar sanggup dijadikan hiasan.

 merupakan anggota keluarga Paradisaeidae dari ordo burung pengicau atau Passeriformes Burung Cenderawasih
img by http://forwallpapers.com/

Hal ini tidak diketahui oleh para penjelajah dan mengakibatkan dogma bahwa burung ini tidak pernah mendarat namun tetap berada di udara alasannya ialah bulu-bulunya. Inilah asal mula burung cenderawasih dijuluki dengan nama nama bird of paradise (burung surga' oleh orang Inggris) dan nama jenis apoda yang berarti 'tak berkaki'.

Banyak jenis burung cendrawasih mempunyai ritual kawin yang unik dan rumit, dengan sistem kawin jenis-jenis Paradisaea ialah burung-burung jantan berkumpul untuk bersaing mengatakan keelokannya pada burung betina,kemudian nanti si burung betina akan menentukan satu diantara burung jantan tersebut yang mempunyai tarian paling baik. Sementara jenis cendrawasih yang lain-nya menyerupai jenis-jenis Cicinnurus dan Parotia mempunyai tari perkawinan yang beraturan.

Spesies burung cenderawasih

Genus Lycocorax
  • Cenderawasih gagak, Lycocorax pyrrhopterus 
Genus Manucodia
  • Manukodia mengkilap, Manucodia atra 
  • Manukodia jobi, Manucodia jobiensis 
  • Manukodia leher-berkerut, Manucodia chalybata 
  • Manukodia jambul-bergulung, Manucodia comrii 
  • Manukodia terompet, Manucodia keraudrenii 
Genus Paradigalla
  • Paradigala ekor-panjang, Paradigalla carunculata 
  • Paradigala ekor-pendek, Paradigalla brevicauda 
Genus Astrapia
  • Astrapia arfak, Astrapia nigra 
  • Astrapia elok, Astrapia splendidissima 
  • Astrapia ekor-pita, Astrapia mayeri 
  • Astrapia stephanie, Astrapia stephaniae 
  • Astrapia huon, Astrapia rothschildi 
Genus Parotia
  • Parotia arfak, Parotia sefilata 
  • Parotia karola, Parotia carolae 
  • Parotia berlepschi, Parotia berlepschi 
  • Parotia lawes, Parotia lawesii 
  • Parotia timur, Parotia helenae 
  • Parotia wahnes, Parotia wahnesi 
Genus Pteridophora
  • Cenderawasih panji, Pteridophora alberti 
Genus Lophorina
  • Cenderawasih kerah, Lophorina superba 
Genus Ptiloris
  • Toowa cemerlang Ptiloris magnificus 
  • Toowa timur Ptiloris intercedens 
  • Toowa nirwana Ptiloris paradiseus 
  • Toowa viktoria Ptiloris victoriae 
Genus Epimachus
  • Paruh-sabit kurikuri, Epimachus fastuosus
  • Paruh-sabit coklat, Epimachus meyeri
  • Paruh-sabit paruh-hitam, Epimachus albertisi
  • Paruh-sabit paruh-pucat, Epimachus bruijnii
Genus Cicinnurus
  • Cenderawasih belah-rotan, Cicinnurus magnificus
  • Cenderawasih botak, Cicinnurus respublica
  • Cenderawasih raja, Cicinnurus regius
Genus Semioptera
  • Bidadari halmahera Semioptera wallacii
Genus Seleucidis
  • Cenderawasih mati-kawat, Seleucidis melanoleuca
Genus Paradisaea

  • Cenderawasih kuning-kecil, Paradisaea minor
  • Cenderawasih kuning-besar, Paradisaea apoda
  • Cenderawasih raggiana, Paradisaea raggiana
  • Cenderawasih goldi, Paradisaea decora
  • Cenderawasih merah, Paradisaea rubra
  • Cenderawasih kaisar, Paradisaea guilielmi
  • Cenderawasih biru, Paradisaea rudolphi
Dan masih ada beberapa spesies yang masih di kembangkan penelitiannya seperti:
  • Melampitta besar, "Melampitta" gigantea 
  • Cenderawasih loria
  • Cenderawasih jambul
  • Cenderawasih dada-kuning
  • Penghisap-madu elok
  • Melampitta kecil
Masyarakat di Papua sering menggunakan bulu Cenderawasih dalam pakaian dan budbahasa mereka, dan beberapa era yang kemudian bulu itu penting untuk dibentuk sebagai materi topi perempuan di Eropa. Perburuan untuk menerima bulu dan perusakan habitat mengakibatkan penurunan jumlah burung pada beberapa jenis membawa ke tingkat terancam,tapi perusakan habitat alasannya ialah penebangan hutan kini ini merupakan bahaya utama.

Perburuan burung Cenderawasih untuk diambil bulunya untuk perdagangan topi marak di selesai era 19 dan awal era 20 (Cribb 1997), namun kini burung-burung itu dilindungi dan perburuan hanya dibolehkan untuk kebutuhan perayaan dari suku setempat.(wikipedia)

Burung Cucak Rawa

Burung Cucak rawa ialah jenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae atau cucak-cucakan.Dalam bahasa jawa dikenal dengan nama Cucak Rowo, cangkurawah (bahasa Sunda), dan barau-barau (bahasa Melayu). Dalam bahasa Inggris disebut Straw-headed Bulbul, mengacu pada warna kepalanya yang berwarna kuning-jerami pucat. Nama ilmiahnya ialah Pycnonotus zeylanicus (Gmelin, 1789).

Burung ini berukuran sedang, panjang badan total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 28 cm. Mahkota (sisi atas kepala) dan epilog indera pendengaran berwarna jingga- atau kuning-jerami pucat; setrip malar di sisi dagu dan garis kekang yang melintasi mata berwarna hitam. Punggung coklat zaitun bercoret-coret putih, sayap dan ekor kehijauan atau hijau coklat-zaitun. Dagu dan tenggorokan putih atau keputihan; leher dan dada abu-abu bercoret putih; perut abu-abu, dan pantat kuning. Iris mata berwarna kemerahan, paruh hitam, dan kaki coklat gelap.

Burung Cucak rawa ialah jenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae atau cucak Burung cucak rawa
singaporebirdgroup.files.wordpress.com

Seperti namanya, cucak rawa biasa ditemukan di paya-paya dan rawa-rawa di sekitar sungai, atau di tepi hutan. Sering bersembunyi di balik dedaunan dan hanya terdengar suaranya yang khas. Suara lebih berat dan lebih keras dari umumnya cucak dan merbah. Siulan jernih, jelas, berirama baku yang merdu. Kerap kali terdengar bersahut-sahutan.

Di alam, burung ini memangsa aneka serangga, siput air, dan aneka macam buah-buahan yang lunak ibarat buah jenis-jenis beringin. Menyebar di dataran rendah dan perbukitan di Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Nias), Kalimantan, dan Jawa bab barat. Di Jawa Barat terdapat hingga ketinggian 800 m dpl., namun kini dianggap punah alasannya ialah perburuan.

Burung ini merupakan salah satu burung yang sangat digemari orang sebagai burung peliharaan, alasannya ialah kicauannya yang merdu keras dan harganya yang cukup mahal.

Di Jawa, burung ini sudah sangat jauh menyusut populasinya alasannya ialah perburuan yang tidak terkontrol semenjak tahun '80an. Burung-burung yang diperdagangkan di Jawa kebanyakan didatangkan dari Sumatra dan Kalimantan. Kini di banyak bab Pulau Sumatra (misalnya di Jambi, di sepanjang Batang Bungo) pun populasinya terus menyurut.Menurut Collar dkk. (1994, dan MacKinnon dkk. 2000) menggolongkan populasi burung cucak rawa ke dalam status rentan.

Demikian pula IUCN menyatakan bahwa burung ini berstatus Rentan (VU, Vulnerable). Uraian status konservasi yang lebih rinci sanggup dilihat pada situs IUCN di bawah. Jika tidak ada langkah evakuasi yang lebih baik dari sekarang, barangkali beberapa tahun ke depan burung ini hanya tinggal kenangan; tinggal disebut-sebut dalam nyanyian ibarat dalam lagu Manuk Cucakrowo di Jawa.(wikipedia)

Search

Popular Posts

Blog Archive